Agama terasa kering dan menjemukan jika hanya bicara fikih dan nilai-nilai spiritual semata tanpa mengkaitkannya dengan realitas sosial. Jika agama hanya direduksi hanya sebatas hubungan dengan Sang Khalik semata tanpa melihat dimensi sosialnya maka Islam hanya akan menjadi agama surgawi semata.
Padahal Islam bukan hanya agama surgawi, tetapi juga duniawi. Islam bukan hanya agama ritual tetapi agama sosial juga. Artinya Islam memandang hubungan dengan sesama manusia menjadi suatu hal yang penting dalam meningkatkan kualitas keimanan seseorang. Iman dalam Islam bukanlah iman yang individualis tetapi juga iman yang bersentuhan dengan sesama manusia. Islam bukan agama yang melulu menekankan aspek peribadatan semata tanpa berusaha meningkatkan kepedulian terhadap masalah-masalah kemasyarakatan melalui nilai-nilainya. Seorang muslim dituntut untuk memiliki kepedulian terhadap diri dan lingkungannya, khusus terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya.
Islam bukan hanya agama langit tetapi juga agama bumi. Kesalehan sosial di dalam Islam menempati posisi yang tinggi. Kesalehan sosial merupakan amal shalih yang menyebabkan seorang insan dapat memasuki al-jannah an-naim, surga yang penuh kenikmatan. Seorang muslim yang beriman dituntut untuk peduli terhadap lingkungan sosialnya dan turut aktif menyelesaikan masalah-masalah kemasyarakatannya. Umat Islam bukan umat yang pasif dan statis tetapi juga dinamis dan aktif.
Saya sempat merasa heran dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat kita. Masyarakat cenderung berlebih-lebihan dalam beribadah tetapi malas bahkan cenderung apatis dalam menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan. Seolah-olah Islam hanya bicara surga dan neraka saja. Padahal Islam juga aturan hidup di dunia.
Pemahaman agama yang dangkal tersebut diakibatkan oleh ketidakmengertian terhadap ajaran agama. Padahal Islam menyuruh umatnya untuk menuntut ilmu sebagai bekal hidup di dunia dan diakhirat. Memahami agama berarti memahami konteks agama sebagai habl min Allah dan habl min an-nas. (ikatan dengan Allah dan manusia).
TerlaIu banyak teks-teks al-Qur’an dan hadis yang berbicara keutamaan menolong orang lain, bersedekah, membersihkan lingkungan, menciptakan persaudaraan, keselamatan, dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Iman selalu dilekatkan dengan amal shaleh. Menurut para ulama, amal shaleh ada yang bersifat individual dan ada yang bersifat sosial. Yang individual seperti sholat, zikir, puasa, haji, sedangkan amal yang bersifat sosial jauh lebih banyak daripada yang bersifat individual. Bahkan seluruh muslim dianjurkan untuk memperbanyak kedua amal tersebut. Amal sholeh yang bersifat individual lebih banyak ditujukan untuk diri sendiri. Sedangkan amal shaleh yang bersifat sosial jauh lebih tinggi nilainya daripada yang bersifat sosial tanpa harus meninggalkan yang individual.
Amal shaleh sosial adalah amal shaleh yang berkaitan dengan kemaslahatan orang banyak. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa salah-satu cabang iman yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan agar tidak terinjak orang. Ini membuktikan bahwa iman berkaitan dengan berbuat kebaikan untuk orang lain dan bukan hanya untuk kebaikan diri sendiri saja.
Bagaimana melaksanakan amal shaleh sosial tersebut? Seorang muslim harus menyadari bahwa pada hakekatnya tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Ia adalah makhluk sosial yang selalu bergantung kepada orang lain. Oleh karena itu ia harus menjadikan dirinya bermanfaat untuk orang lain. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.” Ini berkaitan dengan nilai (value) manfaat seseorang bagi lingkungan masyarakatnya. Ia harus menjadi matahari yang menyinari masyarakatnya bukan malah menjadi beban bagi masyarakatnya.
Oleh karena itu dibutuhkan ilmu agar manusia bisa meningkat kualitasnya dan bermanfaat bagi orang lain di sekelilingnya. Dibutuhkan semangat, kerja keras, dan niat baik agar seorang muslim dapat memberi nilai tambah kepada masyarakat sekelilingnya. Mudah bukan?
Islam bukan agama mengawang-awang tapi membumi. Seringkali fenomena yang kita saksikan di masyarakat luas adalah kecenderungan individualistik tanpa mempedulikan masyarakat sekitar. Bisa jadi ia seorang haji, muslim yang kaya, tapi tak pernah peduli pada penderitaan anak-anak yatim dan orang miskin. Ia bahkan tak mau menyumbang untuk kegiatan lingkungan misalnya. Hal ini patut disayangkan karena berarti dia tak memahami misi Islam sesungguhnya. Oleh karena itu dibutuhkan pemahaman Islam yang lebih menyeluruh agar umat dapat saling tolong sesamanya.
Islam merupakan agama sosial dan bukan etika individual. Akhlak dalam Islam berkaitan dengan bagaimana berinteraksi dengan manusia yang lain dalam sebuah masyarakat. Islam mengatur bagaimana etika berekonomi, berpolitik, berbisnis, berbudaya, dan bahkan juga menjalin hubungan bertetangga. Banyak sekali rujukan kitab-kitab kuning dan putih yang berkaitan dengan masalah sosial ini. Tinggal kita maukah kita melakukannya?
Hanvitra Al-Minangkabawi
