Saturday, November 7, 2009

Islam, Antara Ritualitas dan Kesalehan Sosial

Agama terasa kering dan menjemukan jika hanya bicara fikih dan nilai-nilai spiritual semata tanpa mengkaitkannya dengan realitas sosial. Jika agama hanya direduksi hanya sebatas hubungan dengan Sang Khalik semata tanpa melihat dimensi sosialnya maka Islam hanya akan menjadi agama surgawi semata.

Padahal Islam bukan hanya agama surgawi, tetapi juga duniawi. Islam bukan hanya agama ritual tetapi agama sosial juga. Artinya Islam memandang hubungan dengan sesama manusia menjadi suatu hal yang penting dalam meningkatkan kualitas keimanan seseorang. Iman dalam Islam bukanlah iman yang individualis tetapi juga iman yang bersentuhan dengan sesama manusia. Islam bukan agama yang melulu menekankan aspek peribadatan semata tanpa berusaha meningkatkan kepedulian terhadap masalah-masalah kemasyarakatan melalui nilai-nilainya. Seorang muslim dituntut untuk memiliki kepedulian terhadap diri dan lingkungannya, khusus terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya.

Islam bukan hanya agama langit tetapi juga agama bumi. Kesalehan sosial di dalam Islam menempati posisi yang tinggi. Kesalehan sosial merupakan amal shalih yang menyebabkan seorang insan dapat memasuki al-jannah an-naim, surga yang penuh kenikmatan. Seorang muslim yang beriman dituntut untuk peduli terhadap lingkungan sosialnya dan turut aktif menyelesaikan masalah-masalah kemasyarakatannya. Umat Islam bukan umat yang pasif dan statis tetapi juga dinamis dan aktif.

Saya sempat merasa heran dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat kita. Masyarakat cenderung berlebih-lebihan dalam beribadah tetapi malas bahkan cenderung apatis dalam menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan. Seolah-olah Islam hanya bicara surga dan neraka saja. Padahal Islam juga aturan hidup di dunia.

Pemahaman agama yang dangkal tersebut diakibatkan oleh ketidakmengertian terhadap ajaran agama. Padahal Islam menyuruh umatnya untuk menuntut ilmu sebagai bekal hidup di dunia dan diakhirat. Memahami agama berarti memahami konteks agama sebagai habl min Allah dan habl min an-nas. (ikatan dengan Allah dan manusia).

TerlaIu banyak teks-teks al-Qur’an dan hadis yang berbicara keutamaan menolong orang lain, bersedekah, membersihkan lingkungan, menciptakan persaudaraan, keselamatan, dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Iman selalu dilekatkan dengan amal shaleh. Menurut para ulama, amal shaleh ada yang bersifat individual dan ada yang bersifat sosial. Yang individual seperti sholat, zikir, puasa, haji, sedangkan amal yang bersifat sosial jauh lebih banyak daripada yang bersifat individual. Bahkan seluruh muslim dianjurkan untuk memperbanyak kedua amal tersebut. Amal sholeh yang bersifat individual lebih banyak ditujukan untuk diri sendiri. Sedangkan amal shaleh yang bersifat sosial jauh lebih tinggi nilainya daripada yang bersifat sosial tanpa harus meninggalkan yang individual.

Amal shaleh sosial adalah amal shaleh yang berkaitan dengan kemaslahatan orang banyak. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa salah-satu cabang iman yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan agar tidak terinjak orang. Ini membuktikan bahwa iman berkaitan dengan berbuat kebaikan untuk orang lain dan bukan hanya untuk kebaikan diri sendiri saja.

Bagaimana melaksanakan amal shaleh sosial tersebut? Seorang muslim harus menyadari bahwa pada hakekatnya tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Ia adalah makhluk sosial yang selalu bergantung kepada orang lain. Oleh karena itu ia harus menjadikan dirinya bermanfaat untuk orang lain. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.” Ini berkaitan dengan nilai (value) manfaat seseorang bagi lingkungan masyarakatnya. Ia harus menjadi matahari yang menyinari masyarakatnya bukan malah menjadi beban bagi masyarakatnya.

Oleh karena itu dibutuhkan ilmu agar manusia bisa meningkat kualitasnya dan bermanfaat bagi orang lain di sekelilingnya. Dibutuhkan semangat, kerja keras, dan niat baik agar seorang muslim dapat memberi nilai tambah kepada masyarakat sekelilingnya. Mudah bukan?

Islam bukan agama mengawang-awang tapi membumi. Seringkali fenomena yang kita saksikan di masyarakat luas adalah kecenderungan individualistik tanpa mempedulikan masyarakat sekitar. Bisa jadi ia seorang haji, muslim yang kaya, tapi tak pernah peduli pada penderitaan anak-anak yatim dan orang miskin. Ia bahkan tak mau menyumbang untuk kegiatan lingkungan misalnya. Hal ini patut disayangkan karena berarti dia tak memahami misi Islam sesungguhnya. Oleh karena itu dibutuhkan pemahaman Islam yang lebih menyeluruh agar umat dapat saling tolong sesamanya.

Islam merupakan agama sosial dan bukan etika individual. Akhlak dalam Islam berkaitan dengan bagaimana berinteraksi dengan manusia yang lain dalam sebuah masyarakat. Islam mengatur bagaimana etika berekonomi, berpolitik, berbisnis, berbudaya, dan bahkan juga menjalin hubungan bertetangga. Banyak sekali rujukan kitab-kitab kuning dan putih yang berkaitan dengan masalah sosial ini. Tinggal kita maukah kita melakukannya?

Hanvitra Al-Minangkabawi

Islam Liberal dan Krisis Identitas

Kemunculan Islam liberal masih tanda-tanya bagi kita semua. Apa makna di balik ini semua? Benarkah semua tuduhan tentang Islam liberal bahwa ia berasal dari Barat dan sebagainya? Lalu bagaimana sikap kita, umat Islam, terhadap Islam liberal? Tentu tidak mudah menjawabnya dalam tulisan yang singkat ini. Namun saya mencoba sedikit mengelaborasi bagaimana kemunculan Islam liberal dalam ranah intelektual Islam di Indonesia.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa tentang haramnya pemikiran sipilis (sekularisme, pluralisme, dan liberalism) namun ini tidak menyurutkan gerakan Islam liberal di Indonesia itu. Apa sesungguhnya Islam liberal itu?

Liberalisme memang gerakan yang berusaha mengembalikan kebebasan manusia sebagai hakikat dari penciptaannya di muka bumi.Selama ini Islam yang hidup di masyarakat cenderung mengekang potensi kreatif kemanusiaan dengan alasan dogma-dogma agama. Manusia harus tunduk kepada takdir tanpa harus memunculkan potensi kreativitasnya. Dan hal ini disebabkan oleh penafsiran yang tidak sesuai lagi pada zaman kekinian. Dalam Islam, fikih dianggap dogma yang cenderung tidak menghargai hakikat kemanusiaan. Perempuan, misalnya dalam obyek fikih hanya dijadikan sebagai makhluk kedua yang sedikit memiliki hak dibanding lelaki.

Padahal Islam, menurut Nurcholish Madjid, berusaha menjadikan manusia kembali kepada fitrah asalnya. Pada hakekatnya manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya. Manusia menjadikan agama sebagai jalan menuju Tuhan bukan malah menjadikan agama sebagai pengekang kebebasan manusia.

Realitas keduniawian menuntut manusia untuk berperan aktif dalam memakmurkan bumi. Ajaran agama pun menuntut demikian. Sayangnya, sekali lagi, otoritas keagamaan bersikap konservatif. Agama direduksi menjadi melulu urusan akhirat semata. Islam pada masa kemunculannya menjadi semacam kekuatan pembebas (liberating forces) terhadap berbagai macam “tuhan-tuhan” palsu yang membelenggu nilai-nilai kemanusiaan. Islam menjadi kekuatan pendobrak atas nilai-nilai kepaganan yang justru menindas kemanusiaan. Sistem sosial dimana Islam muncul memarjinalkan peranan buruh, budak, wanita, dan kelas bawah. Kelas-kelas berkuasa menjadi “tuhan-tuhan” kecil yang mengendalikan manusia yang lain.

Islam datang untuk membebaskan manusia dari “tuhan-tuhan” kecil itu menuju Tuhan yang sejati. Tuhan yang lebih patut dicintai dan dihormati daripada ditakuti. Tuhan adalah Realitas absolut yang menguasai alam semesta dan ia adalah tunggal. Dia tak terbagi dan tidak memiliki keturunan dan ia jauh dari sifat kemanusiaan dan kehewanan yang rendah. Ia bahkan ilahiah. Sifatnya tak sama dengan sifat manusia.

Manusia hanya diminta dilafalkan dua nama dari 99 nama lainnya yang mewakili sikap keesaan Tuhan, Ar-Rahman-Ar-Rahim atau terjemahan bahasa Indonesianya, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Artinya kedua sikap ini lebih dikedepankan Tuhan daripada sifat-sifat lainnya. Tuhan adalah kekuatan yang mengatur dunia ini dengan kasih sayang. Dan Ia mewajibkan kasih-sayang (ar-rahmah) pada dirinya sendiri dan seluruh ciptaannya di seluruh jagad raya.

Sayangnya, manusia telah kehilangan sifat kasih-sayangnya itu dan mengedepan sikap homo homini lupus. Kaitannya dengan Islam liberal adalah liberalisme dalam Islam berusaha memunculkan aspek kreatif kemanusiaan dengan sifat kasih sayang yang lebih mengedepankan humanisme dan dialog antar umat manusia. Manusia dianjurkan untuk tasamuh, tabayyun, tawasshou bil haqq, tawasshou bis shobr, dan tawashou bil marhamah.

Iman tidak muncul di ruang hampa. Iman tidak tumbuh dari kepercayaan buta. Iman tumbuh dengan ilmu dan suatu kepercayaan bahwa manusia pada hakekatnya adalah khalifatullah fil ardhi yang mengemban amanat kebebasan dan tanggung jawab. Manusia harus mampu merumuskan dirinya sendiri di tengah realitas keduniawian yang terus bergejolak. Bukan mengandalkan pada klaim-klaim sepihak bahwa dogma-dogma masa lalu lebih benar dan lebih tepat. Agama perlu disesuaikan dengan etika kemanusiaan modern tanpa melupakan doktrin dasarnya.

Aktivitas berpikir adalah aktivitas kemanusiaan yang sangat tinggi. Dan berpikir tidak akan dilakukan tanpa adanya kebebasan. Manusia disuruh berpikir oleh Tuhan akan hakikat segala sesuatu termasuk keberadaan dirinya di alam raya ini, ciptaan-ciptaan Tuhan, tanda-tanda kebesarannya di semesta. Artinya dengan memikirkan, merenungi, dan memahami tanda-tanda kebesaran akan didapatkan hakikat peranan manusia di bumi. Kenapa ia harus hadir dan apa tanggungjawabnya di dunia ini?

Al-Qur’an adalah kalam ilahi sekaligus merupakan salah-satu tanda kekuasaan Tuhan itu sendiri. Amatlah naif jika Qur’an tidak berbicara realitas kekinian. Dan itu butuh tangan-tangan orang-orang yang tercerahkan untuk memahaminya. Qur’an adalah bahasa langit yang dibumikan. Qur’an adalah bahasa kemanusiaan. Jika Qur’an dibiarkan membeku pada sudut ruang waktu saja maka ia seolah-olah ia tak mampu lagi menjawab realitas sosial kemanusiaan kontemporer. Oleh karena itu, wacana penafsiran QUr’an harus dibuka kembali demi memajukan peradaban umat manusia.

Qur’an melampaui zamannya, penafsiran terdahulu dapat dijadikan rujukan. Tapi Qur’an menyuruh kita berpikir akan realitas kekinian. Qur’an membuka silang pendapat tapi bukan silang kepentingan. Artinya semangat ijtihad harus dibuka kembali demi menciptakan peradaban Rabbani di muka bumi. Dialog, musyarawarah, debat yang baik, harus dibuka demi menciptakan pergerakan yang dinamis yang sanggup menjawab permasalahan kontemporer.

Islam bukan agama dogmatis, melainkan agama dinamis. Dan ini sudah terbukti selama 14 abad perjalannya ia mampu berinteraksi dengan berbagai zaman.

Krisis Identitas

Krisis identitas yang melanda dunia Islam sejak abad ke-19 memberikan dorongan bagi kemunculan Islam liberal. Di satu sisi kekalahan umat Islam terhadap kolonialisme menimbulkan pertanyaan tersendiri. Mengapa peradaban Islam yang begitu masyhur terkalahkan oleh peradaban “kafir”?

Krisis identitas ditandai dengan ketidakmampuan merumuskan identitas diri di tengah kemajemukan masyarakat dunia. Identitas dalam krisis artinya bagaimana posisi Islam berhadap dengan berbagai macam ideologi-ideologi besar dunia. Dimana letak kemajuan Islam? Islam ditengarai mengalami kemunduran pesat semenjak kebebasan berpikir dihambat. Oleh karena itu dibutuhkan perumusan kembali nilai-nilai identitas dasar Islam yang lebih mutakhir berhadapan dengan ideologi-ideologi besar dunia seperti materialisme, liberalisme, kapitalisme, demokrasi sampai environmentalisme. Islam harus mampu memberikan jawaban komprehensif terhadap berbagai krisis kemanusiaan. Agar dengan demikian tetap menjadi rahmatan lil alamin. Wallahua’lam bishowab.
Hanvitra